Permasalahan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran wajib di setiap jenjang pendidikan. Walaupun terlihat gampang, tetapi mata pelajaran ini tidak boleh dianggap remeh. Fakta membuktikan masih banyak permasalahan yang ada pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung. Tidak hanya di jenjang sekolah saja permasalahan tersebut muncul, tetapi juga di lingkungan mahasiswa. Secara tidak langsung, permasalahan tersebut sudah menjadi budaya dan terkesan didiamkan saja.

Permasalahan tersebut antara lain yaitu yang pertama adalah kurangnya semangat siswa saat mengikuti pelajaran, semangat adalah hal utama yang membuat siswa dapat memahami pelajaran yang telah disampaikan dengan baik. Jika siswa sudah merasa malas di awal pembelajaran, maka itu akan berpengaruh pada hasil pemahaman siswa terhadap materi. Kurangnya semangat siswa tersebut dapat muncul misalnya ketika pembelajaran Bahasa Indonesia dilakukan setelah jam mata pelajaran olah raga atau mata pelajaran Bahasa Indonesia diadakan saat jam terakhir atau siang hari. Pada saat-saat tersebut, siswa dalam keadaan lelah setelah berolah raga. Siswa mengalami lelah fisik yang mengakibatkan siswa mengantuk, sedangkan saat jam-jam terakhir atau siang hari siswa mengalami lelah fisik sekaligus lelah pikiran dikarenakan telah seharian melaksanakan pelajaran. Atau bahkan semangat siswa menurun akibat tidak menyukai guru yang mengampu mata pelajaran tersebut. Entah karena guru tersebut membosankan atau galak sehingga menjadi ancaman bagi siswa yang melakukan pelanggaran.

Permasalahan yang kedua, kurangnya keterampilan siswa dalam berbicara dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal tersebut dikarenakan masih terpengaruhnya bahasa yang digunakan siswa sehari-hari, termasuk bahasa daerah masing-masing yang belum tentu semua siswa mengerti. Siswa cenderung menganggap bahwa seolah-olah mereka hanya bercakap-cakap dengan temannya seperti biasa. Ketiga, kurangnya keterampilan siswa dalam mengungkapkan ide. Siswa kurang memiliki keberanian dalam mengungkapkan gagasannya, mereka menganggap bahwa gagasannya tidak penting sehingga tidak perlu untuk diutarakan. Padahal jika ditinjau lebih lanjut ternyata gagasan tersebut penting dan dapat menjadi bahan saat ujian. Ada juga kasus siswa yang mengutarakan idenya dengan cara yang salah, sehingga maksud yang ia kemukakan tidak dapat dipahami dengan jelas. Hal tersebut bukan membuat siswa menjadi jelas, tetapi menjadi semakin bingung. Kasus yang terakhir adalah kurangnya pemahaman siswa dalam penulisan ejaan yang masih terpengaruh dengan bahasa lisan. Hal tersebut dikarenakan siswa hanya mengingat apa yang dikatakannya sehari-hari. Padahal bahasa yang digunakan sehari-hari merupakan bahasa yang tidak baku dan tidak sesuai dengan EYD, bahkan bahasa daerah pun masih diikut sertakan dalam bahasa tulisan. Selain itu juga kurang diperkenalkannya EYD secara lebih mendalam sejak dini.

 

Solusi Pemecahan

Solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut adalah, pertama gunakan metode diskusi atau kegiatan yang menuntut siswa untuk keluar dari lingkungan kelas. Sebagai contoh guru dapat memberi tugas kepada siswa untuk mencari artikel atau buku di perpustakaan yang berhubungan dengan pokok bahasan. Metode tersebut dapat mengatasi rasa kantuk siswa dan membuat siswa tidak merasakan lamanya waktu pelajaran. Guru juga perlu mengadakan pendekatan dengan siswa, agar siswa merasa bahwa guru tersebut bukan merupakan ancaman baginya dan menghilangkan kesan galak yang sudah tertanam pada pemikiran siswa. Pendekatan tersebut tidak hanya dilakukan saat pembelajaran berlangsung, akan tetapi lebih baik jika dilakukan saat diluar jam pelajaran juga.

Solusi yang kedua adalah dengan membiasakan siswa untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika pelajaran sedang berlangsung. Baik itu berbicara dengan guru maupun teman sekelas. Dengan begitu siswa juga mampu mengungkapkan pendapatnya dengan baik dan benar sekaligus sedikit demi sedikit menghilangkan bahasa daerah yang setiap daerah memiliki makna berbeda. Ketiga adalah dengan menunjuk satu per satu siswa yang dirasa cenderung pasif untuk berbicara mengungkapkan apa yang tidak mereka pahami. Mekipun pada awalnya tidak mendapatkan reaksi yang positif, namun guru perlu melakukannya secara terus menerus agar siswa sedikit demi sedikit terdorong untuk berbicara. Solusi yang terakhir adalah dengan memperkenalkan lebih dalam lagi buku EYD. Jika perlu setiap siswa wajib untuk memilikinya agar terbiasa menggunakan bahasa tulisan yang sesuai dengan EYD. Tetapi jangan sampai membuat siswa menjadi ketergantungan dengan EYD. Hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan EYD selama beberapa minggu, kemudian di minggu-minggu selanjutnya melarang penggunaan EYD.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s